RSS Feed

AL HABIB UMAR BIN ABDURRAHMAN AL ATHOS

Posted on

AL HABIB UMAR BIN ABDURRAHMAN AL ATHOS

Kita tentu tidak asing lagi dengan Rotib Al athos yang selalu di baca baik itu di majlis-majlis ta’lim maupun di amalkan secara individu. Rotib AL athos adalah susunan dzikir yang disusun oleh Habib Umar bin Abdurrahman Alathos. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Hadro maut Yaman pada tahun 992 H atau 1572 M Di kota Isnat. Ayah beliau bernama Al habib Abdurrahman bin aqil dan Ibunya bernama syarifah Muznah binti Muhammad Al jufri. Karamah kewalian Habib Umar bin abdurrahman Al athos sudah nampak sejak beliau dalam kandungan ibunya ,janin tersebut bersin dan tentu ini adalah sesuatu diluar kebiasaan manusia pada umumnya dan hingga beliau mendapat gelar “Al athos { orang yang bersin }. Sejak kecil beliau sudah mengalami kebutaan namun tidak mengurangi semangat beliau dalam menuntut ilmu. Beliau belajar dari ayahnya dan ulama-ulama setempat lainnya seperti Syeck Umar bin isa,Syeck abu bakar bin salim dan Habib Husein bin syech abubakar bin salim.beliu juga membuka taklim dengan mengajarkan ilmu agama. Dakwahnya pun menyebar ke segenap penjuru Hadramaut.

Belakangan ia dikenal sebagai seorang sufi yang banyak menguasai ilmu lahir dan batin, pengayom anak yatim piatu, janda, dan fakir miskin. Siang mengajar, malamnya ia gunakan untuk melakukan riyadhah, beribadah, bermunajat kepada Allah SWT, dan sangat jarang tidur.
Sebagai ulama besar dan sufi, Habib Umar dikenal dengan beberapa karamahnya. Ia sangat termasyhur, bahkan sampai ke negari Cina. Suatu hari, salah seorang anak Habib Abdurrahman melawat ke Cina. Di sana ia bertemu seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.
”Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah berjumpa?” tanyanya.
”Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya. Habib Umar sering datang ke negeri kami dan ia sangat terkenal di negeri ini,” jawab sufi tersebut. Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, namun Habib Umar telah berdakwah sampai ke sana.
Syekh Muhammad Baqais, salah seorang muridnya, bercerita, ”Satu kali Habib Umar mendamaikan beberapa suku yang berperang sampai berkali-kali. Tapi, tetap saja ia tidak mendapatkan tanggapan baik. Karena itu beliau pun melemparkan biji tasbihnya kepada mereka. Dengan izin Allah biji tasbih itu menjadi ular. Barulah mereka sadar dan mohon maaf.”
Nama Habib Umar tak bisa dipisahkan dari karya agung yang diberinya judul ‘Azizul Manal wa Fathu Babil Wishal, alias “Anugerah nan Agung dan Pembuka Pintu Tujuan” – yang di belakang hari sangat terkenal sebagai Ratib Al-Atthas. Habib Umar sendiri berwasiat, “Rahasia dan hikmah telah kutitipkan di dalam ratib itu.”

Melindungi Kota
Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta Pusat), Ratib Al-Aththas lebih tua dibanding Ratib Al-Haddad. Ratib Al-Haddad disusun pada 1071 H/1651 M oleh Habib Abdullah Al-Haddad, atau sekitar 350 tahun lalu, sedang Ratib Al-Atthas disusun jauh sebelumnya. Ada beberapa wirid atau doa yang tidak ada dalam Ratib Al-Atthas tapi terdapat dalam Ratib Al-Haddad, demikian pula sebaliknya. Namun, seperti ratib-ratib yang lain, keduanya tetap mengacu pada doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Ratib Al-Atthas biasa dibaca usai salat Magrib, tapi boleh juga dibaca setiap pagi, siang, atau tengah malam. Bisa dibaca sendiri atau secara berjemaah. Manfaat ratib ini sangat besar. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan, dengan membaca Ratib Al-Atthas atau Ratib Al-Haddad setiap malam, Allah SWT akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan, dan mengucurkan rezeki-Nya kepada segenap penduduk.
Dalam keadaan sangat khusus dan mendesak, ratib tersebut bisa dibaca tujuh hingga 41 kali berturut-turut. Pendapat ini mengacu pada beberapa hadis Rasulullah SAW tentang manfaat istigfar dan doa-doa lainnya. Sebab, dalam ratib-ratib tersebut antara lain terdapat selawat, tahlil, tasbih, tahmid, dan istigfar.
Begitu hebat fadilah atau keutamaan ratib-ratib itu, hingga Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husein Al-Atthas menyatakan bahwa mereka yang mengamalkan ratib tersebut tidak akan terluka jika pada suatu hari terpatuk ular. “Orang yang biasa mengamalkan ratib-ratib itu tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti,” katanya.
Betapa hormat para ulama kepada Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas. Tergambar ketika suatu hari seorang ulama, Syekh Salim bin Ali, mengunjungi Imam Masjidilharam, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf, dan menyampaikan salam dari Habib Umar. Seketika itu juga Habib Muhammad pun menundukan kepala sejenak, lalu katanya, ”Layaklah setiap orang menundukkan kepala kepada Habib Umar. Demi Allah, saya mendengar suara gemuruh di langit untuk menghormati beliau. Sementara di bawah langit ini tidak ada orang lebih utama daripada beliau.”
Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas wafat pada 23 Rabiulakhir 1072 H/1652 M, dan jenazahnya dimakamkan di Hadramaut.

MENGENANG TUAN GURU H.M. ZAINI ABDUL GHANI AL-BANJARI

Posted on
Oleh: H.M. Irsyad Zein, Dalam Pagar, Martapura) (Zuriat ke-6 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari)
Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani bin Al ‘arif Billah Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Guru Sekumpul), dilahirkan pada, malam Rabu 25 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M).

Nama kecil beliau adalah Qusyairi. Sejak kecil beliau sudah termasuk dari salah seorang yang mahfuzh, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT.
Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat-sifat dan pembawaan yang lain daripada anak-anak yang lainnya, di antaranya adalah bahwa beliau tidak pernah ihtilam.
‘Alimul ‘allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani sejak kecil selalu berada di samping kedua orang tua dan nenek beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga di masa kanak-kanak beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca Alquran dengan nenek beliau. Dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.
Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi yang sederhana, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka membaca Alquran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada guru yang mengajar Alquran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di madrasah (pesantren) Darussalam Martapura.
Guru-guru ‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, antara lain adalah:
1.  Di tingkat Ibtida adalah: Guru Abdul Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abdul. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf
2.  Di tingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.
3.  Guru di bidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil Al Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.
4.  Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan Bangil, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muhammad Amin Qutby. Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat, antara lain diterima dari:
Kyai Falak Bogor (Abah Falak), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Muhammad Yasin Padang (Mekkah), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy- Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Baar.
5.  Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw. Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung Rantau) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, untuk mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian di antara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut di atas.
Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa-apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan minta ampun serta memohon untuk dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang telah ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.
Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga, di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu tersebut tertidur. Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya. Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulang kali di tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan harapan Tuhan mengampuni dosa-dosanya.
Pernah rumput-rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dari beberapa penyakit, begitu pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau perhatikan dan hal-hal yang demikian itu beliau anggap hanya merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.
Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah Swt atau futuh, tatkala membaca ayat: Wakanallahu syami’ul bashiir.
‘Alimul’allamah Al-’Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, sejak kecilnya hidup di tengah keluarga yang shalih, maka sifat-sifat sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur di jiwa beliau; sehingga apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya. Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau selalu menunggu tempat tempat yang biasanya ‘Alimul Fadhil H. Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke Banjarmasin semata-mata hanya untuk bersalaman dan mencium tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.
Di masa remaja ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini Abdul Ghani pernah bertemu dalam rukyah (mimpi) dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina Husien (cucu Nabi Saw) yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal ‘Abidin. Setelah dewasa, maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib yang tua-tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.
‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat, dan beliau seorang yang hafazh Alquran beserta hafazh tafsirnya, yaitu tafsir Alquran Al-’Azhim lil-Imamain Al-Jalalain. Beliau seorang ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis ta’lim maupun majelis ‘amaliyahnya di Komplek Raudah Sekumpul seperti majelis Syekh Abdul Kadir al-Jailani.
Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar, dan pemurah sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sahabat dan anak murid. Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun tidak pernah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan tidak mengetahui serta tidak mau bertanya.
Tamu-tamu yang datang ke rumah beliau, pada umumnya selalu beliau berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3.000-an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.
Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang benar-benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Alquran, misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya dakwah Islamiyah, atau membesarkan dan memuliakan syi’ar agama Islam. Sebelum beliau pergi ke tempat tersebut lebih dulu beliau turut menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru beliau datang. Jadi benar-benar beliau berjihad dengan harta lebih dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau benar-benar mengamalkan kandungan ayat Alquran yang berbunyi: Wajaahiduu bi’amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.
‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah satu-satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang mendapat izin untuk mengijazahkan (bai’at) thariqat Sammaniyah, karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil bai’at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau Jawa dan daerah lainnya.
‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani dalam mengajar dan membimbing umat tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat, selama masih mampu, beliau masih tetap mengajar dan memberi pengajian.
Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu-waktu tertentu beliau datangkan dokter spesialis untuk memberiikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai, seperti dokter spesialis jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dan kesehatan lingkungan tempat pengajian.
Berbagai karomah (kelebihan) telah diberikan oleh Allah kepada beliau. Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton (Martapura), biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah.
Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketaui oleh mereka yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata di tangan beliau terdapat sebiji buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.
Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguhi jamuan oleh shahibul bait (tuan rumah) maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, sesudah dilihat, ternyata makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan-akan tidak pernah dimakan oleh beliau.
Pada suatu musim kemarau yang panjang, di mana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur-sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa segera turun. Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada di dekat rumah beliau waktu itu, maka beliau goyang-goyangkanlah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan derasnya.
Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang ke 189 di Dalam pagar Martapura, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syeikh H. M. Zaini Abdul Ghani menuju ke tempat pelaksanaan haul tersebut. Keadaan itu sempat mencemaskan panitia pelaksana haul tersebut, namun dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari kemudian.
Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, ibu yang sedang hamil dan bayinya jungkir (sungsang) serta meninggal dalam kandungan, di mana semua kasus ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun keluarga sisakit kemudian pergi minta didoakan oleh ‘Allimul’allamah ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.
Demikianlah di antara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihi-Nya.
Sebelum wafat, Tuan Guru H.M. Zaini Abdul Ghani telah menulis beberapa buah kitab, antara lain:
-   Risalah Mubaraqah.
-   Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani.
-   Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
-   Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
Beliau juga sempat memberikan beberapa pesan kepada seluruh masyarakat Islam, yakni:
1.  Menghormati ulama dan orang tua
2.  Baik sangka terhadap muslimin
3.  Murah hati
4.  Murah harta
5.  Manis muka
6.  Jangan menyakiti orang lain
7.  Mengampunkan kesalahan orang lain
8.  Jangan bermusuh-musuhan
9.  Jangan tamak atau serakah
10.Berpegang kepada Allah, pada kabul segala hajat
11.Yakin keselamatan itu pada kebenaran.
            Setelah sempat dirawat selama lebih kurang 10 hari di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura, karena penyakit ginjal yang beliau derita, pada hari Rabu, 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005, beliau pun kembali menghadap Allah SWT. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, telah diangkat oleh Allah SWT ilmu melalui kewafatan seorang ulama.
Seluruh masyarakat Kalimantan merasa kehilangan seorang Tuan Guru yang menjadi panutan, penerang, dan penyuluh kehidupan umat. Kini umat Islam di Martapura dan Kalimantan Selatan umumnya, menantikan kembali, hadirnya generasi baru –ulama panutan– yang akan menggantikan atau paling tidak memiliki kharisma dan ilmu sebagaimana yang dimiliki oleh Guru Sekumpul, untuk memimpin dan membimbing umat menuju kedamaian di bawah ridha Allah SWT.

MEMBACA KEILMUAN, KEULAMAAN, DAN KETELADANAN GURU SEKUMPUL

Masih kuat dalam ingatan masyarakat Banjar, bagaimana rasa kehilangan dan kesedihan atas
wafatnya Al-Allimul Fadhil K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari yang populer dipanggil dengan nama Guru Sekumpul, dua tahun yang lalu. Generasi ketujuh dari ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ini wafat pada tanggal 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005.
Beliau adalah sosok ulama kharismatik dan mumpuni, yang keharumanan nama dan keilmuannya
tidak hanya dikenal di Banua, namun juga sampai ke negara jiran, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kehadiran beliau di Bumi Kalimantan telah memberikan warna dan cahaya terang terhadap pengembangan dakwah dan syiar Islam, yang gemanya tidak hanya bergaung di banua, akan tetapi sampai keberbagai daerah di Indonesia. Dengan ilmu dan amal yang telah ditebarkannya,
kharisma dan keharuman Guru Sekumpul seakan ber-emanasi dan menyentuh hati ribuan jamaah yang menghadiri pengajiannya. Jamaahnya yang datang dari berbagai kota di Kalimantan Selatan
saban pengajian dilaksanakan, rela untuk berdesakan guna menyauk ilmu yang terus mengalir di Komplek Ar-Raudhah Sekumpul.
Guru Sekumpul adalah seorang ulama besar yang yang sulit dicarikan gantinya. Karena, beliau pergi dengan membawa ilmunya, “Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”. Beliau banyak meninggalkan teladan yang patut untuk kita contoh, beliau meninggalkan kebaikan
yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar terasa sangat luar biasa. Kini, tidak terasa dua tahun sudah beliau meninggalkan kita semua. Tentu, bagi mereka yang pernah dekat dan berhubungan beliau, memiliki kesan dan kenangan tersendiri.
Umumnya, dalam komunitas Islam diberbagai daerah kehadiran ulama dalam memberi warna kehidupan
masyarakat memang sangat signifikan. Ulama memiliki kedudukan sangat penting di tengah-tengah masyarakatnya, sehingga kata-katanya dipatuhi dan perilakunya diikuti. Dalil utama yang sering menjadi sandaran atas peran penting ulama, sehingga mereka menjadi tokoh kunci (key people) adalah: “Ulama adalah pewaris para Nabi”.
Menurut bahasa, ulama merupakan bentuk plural dari kata alim, berarti orang yang mempunyai sifat tahu, mengerti, terpelajar, berilmu atau ilmuwan. Dalam Alquran seperti tercantum dalam surah Asy Syuraa 197 dan Al-Fathir 28 dijelaskan bahwa makna ulama yang terkandung dalam ayat tersebut tidak merujuk kepada pengertian khusus yang berarti sebagai orang-orang yang berpengetahuan agama saja, namun ia bersifat umum. Karena itu jika kita telusuri ulama hanyalah salah satu kelompok atau sinonim dari apa yang disebut dengan istilah ulil albab “orang-orang yang berakal, mempunyai pikiran, cendikiawan, ulama”, yakni sebagai men of understanding and men of wisdom”. Kata-kata ulil albab disebut enam belas kali dalam Al Qur’an antara lain ia disebut sebagai orang yang diberi hikmah (Al-Baqarah 269), orang yang sanggup mengambil pelajaran (Yusuf 111), kritis mendengarkan pemikiran orang lain (Az-Zumar 18), orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (Ali Imran 109), yang mengambil pelajaran dari kitab yang diwahyukan oleh Allah (As-Shaad 29, Al-Mu’min 54 dan Ali Imran 7) dan yang
takut kepada Tuhannya.
Karena itulah, Ali Syariati (seorang sosiolog Muslim Iran) menjuluki kelompok ulil albab tersebut sebagai pemikir yang mencerahkan. Ulama diibaratkan tongkat pemandu jalan di siang hari dan obor penerang di malam Karena itu, kehadirannya tidak hanya concern dengan peran keulamaannya (Tuan Guru), tetapi mestinya jugaterpanggil untuk melaksanakan kebenaran guna memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskan bahasa yang dapat dipahami mereka, serta siap menawarkan
strategi dan alternatif solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat. Inilah tugas utama ulama kata Syariati. Untuk itu ia tidak hanya pandai dalam ilmu-ilmu agama, akan tetapi ia juga harus tahu ilmu-ilmu pengetahuan lain guna menunjang tugas yang diembannya selaku waratsatul anbiyaa.
Imam Ali ra menegaskan bagaimana strategisnya kedudukan ulama di tengah-tengah masyarakat.
Menurut Imam Ali: “Ulama adalah lampu Allah di bumi, maka barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu darinya. Kedudukan ulama bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu. Jika seorang ulama meninggal, maka terjadi lubang dalam Islam yang tidak tertutupi sehingga datang ulama lain yang menggantikannya. Kesalahan
yang dilakukan ulama seperti pecahnya sebuah kapal, yang tidak hanya menenggelamkan dirinya, akan tetapi juga orang-orang yang ikut bersamanya”.
Kecintaan murid, jamaah, dan masyarakat Banjar terhadap sosok Guru Sekumpul semasa hidupnya tidak diragukan lagi. Bahkan, dengan ilmu, kealiman, akhlak, perilaku, beliau sudah dianggap sebagai
seorang “wali”, dengan “karamah” tertentu yang diberikan oleh Allah SWT. Sehingga ada di antara masyarakat yang bersikap terkesan agak berlebihan, bahkan terkadang mengarah kepada pengkultusan). Misalnya, ada pernyataan yang menegaskan bahwa: “Bagaimanapun tingginya ilmu seseorang atau gelar akademik yang dicapainya, dianggap belum sempurna jika belum menyauk ilmu di Sekumpul”.
Bertemu, bersalaman, dan bahkan berfoto dengan Guru Sekumpul adalah sesuatu yang sangat luar biasa (dan dianggap sebagai suatu keharusan). Inilah yang kemudian ada tuduhan tidak laik, bahwa siapapun yang bersalaman atau berfoto dengan beliau dikenakan bayaran. Benda apapun yang pernah dipakai atau berhubungan dengan Guru Sekumpul dianggap memiliki tuah atau manna, sehingga merupakan sesuatu keberuntungan atau sesuatu yang luar biasa jika memilikinya. Dan sebagainya”
Boleh jadi memang sikap itu adalah manifestasi kecintaan dan penghormatan mereka kepada Guru Sekumpul. Karena itu, tidak salah sikap dan perilaku masyarakat dalam mencintai, menghormati, dan meneladani Guru Sekumpul. Namun, apapun alasannya harus tetap dalam konteks kewajaran dan koridor yang semestinya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, bukan untuk pengkultusan. Karena pengkultusan tidak diperbolehkan dalam Islam.
Pasca dua tahun wafatnya Guru Sekumpul dan di tengah peringatan haulnya yang kedua, penulis
jadi teringat beberapa apresiasi tentang beliau yang dimuat dalam majalah Sufi ketika profil beliau (yang bersumber dari tulisan Ayahnda K.H.M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura) dimuat dalam majalah ini dan kemudian mendapat tanggapan dari berbagai kalangan pembaca, yang sempat penulis baca melalui akses internet. Semua orang memang berhak mengatakan ini dan itu tentang beliau, namun terasa kurang etis jika ada yang meragukan keulamaan beliau.Ataupun menjelek-jelekan beliau hanya karena tidak suka. Karena yang terpenting adalah bagaimana bisa mengikuti jejak perjuangan dan meneladani beliau sesuai dengan koridor yang semestinya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasul SAW.
Sejatinya dan sudahnya seharusnya jika manifestasi kecintaan kita terhadap Guru Sekumpul dalam rangka mengenang kewafatannya adalah dengan mengingat petuah dan nasihatnya, mengamalkan ilmu dan pengajarannya, serta mengikuti teladan kebaikan yang telah ditinggalkannya. “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”. Amin.
(Teriring Salam takzhim untuk Guru K.H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)
Posted by zuljamalie@yahoo.co.id in 03:06:31 | Permalink | No Comments »

MENGENANG 1 TAHUN WAFATNYA GURU SEKUMPUL

Ada sesuatu yang membanggakan ketika saya membaca berita prosesi haul tahun pertama Guru Sekumpul, pada 10 Agustus 2006 yang lalu di Martapura, yakni dengan tampilnya generasi penerus (anak) beliau, Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafi Badaly (mudah-mudahan Allah merahmati keduanya). Berikut beberapa apresiasi saya, yang jauh dari banua sebagai bentuk silaturrahmi kepada para pembaca yang mencintai beliau, selaku seorang ulama. Karena itu, tulisan berikut hanyalah salah satu refleksi kecil kenangan satu tahun pasca wafatnya beliau.
Saya percaya, bahwa hampir seluruh masyarakat Banjar yang mendiami kawasan Kalimantan tahu dengan nama Guru Sekumpul, yang pada tanggal 5 Rajab 1426 H bersamaan dengan 10 Agustus 2005 (setahun yang lalu) telah wafat. Adalah menjadi kesedihan yang luar bagi masyarakat Banjar mendengar berita kewafatan Guru Sekumpul menggema lewat berbagai media ketika itu. Sudah menjadi semacam kebiasaan, perasaan kita terkadang baru tersentak ketika kita harus kehilangan, seorang ulama besar yang yang sulit dicarikan gantinya. Karena, beliau pergi dengan membawa ilmunya, “Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”. Beliau banyak meninggalkan teladan yang patut untuk kita contoh, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kini, tidak terasa setahun sudah beliau meninggalkan kita semua. Bagi mereka yang pernah dekat dan berhubungan beliau tentu memiliki kesan dan kenangan tersendiri.
Dilahirkan di “bumi ulama”, Martapura pada 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942) dengan nama kecil Qushairi, kemudian berganti menjadi Muhammad Zaini dan populer dengan sebutan Guru Sekumpul, Al-Allimul Fadhil K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani adalah sosok kharismatik. Kehadiran beliau di bumi Kalimantan telah memberikan warna dan cahaya terang terhadap pengembangan dakwah dan syiar Islam, yang gemanya tidak hanya bergaung di banua, akan tetapi sampai ke berbagai daerah di Indonesia. Dengan ilmu dan amal yang telah ditebarkannya, kharisma dan keharuman Guru Sekumpul seakan ber-emanasi dan menyentuh hati ribuan jamaah yang menghadiri pengajiannya. Jamaahnya yang datang dari berbagai kota di Kalimantan Selatan saban pengajian dilaksanakan, rela untuk berdesakan guna menyauk ilmu yang terus mengalir di Komplek Ar-Raudhah Sekumpul.
Setiap orang mengidolakan beliau, dan para ibu pun ingin kasindiran, agar anak yang dikandungnya kelak jika sudah besar akan menjadi seperti beliau. Para pejabat tinggi bersilaturrahmi, bertamu, dan meminta doa restu untuk kelancaran melaksanakan tugas selaku aparatur pemerintahan yang diamanahkan. Ada pula yang meminta restu agar mendapat kedudukan yang diinginkan. Bisa bertemu dan berdialog langsung dengan beliau adalah anugerah, apalagi bisa bersalaman, dan berfoto bersama, sehingga banyak (dan mungkin) setiap orang berhajat untuk bertemu, bersalaman, dan berfoto dengan beliau.
Kharisma ilmu dan amal beliau begitu memancar, beliau adalah seorang ulama yang menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat, dan satu-satunya ulama yang mendapat izin untuk mengijazahkan tarekat Sammaniyah. Namun demikian, ada pula sebagian kecil orang yang tidak senang dengan dakwah dan apa yang telah beliau lakukan, karena berbagai alasan.
Pengetahuan penulis sendiri terhadap sosok Guru Sekumpul dimulai ketika pertama kali memasuki kota para ulama (Martapura) ini di tahun 1985, untuk meneruskan pendidikan setelah menamatkan sekolah dasar dan Arabic School di salah satu kampung di kota Rantau (Kabupaten Tapin). Waktu itu Guru Sekumpul masih berdiam di Keraton dan belum begitu dikenal luas oleh masyarakat Kalimantan . Satu hal yang selalu penulis ingat dari beliau adalah sikap istiqomah yang beliau miliki. Sebagai contoh, ini terlihat dari posisi dan tempat beliau shalat saban Jumat di masjid Al-Karomah Martapura. Beliau selalu mengambil posisi tengah-tengah bagian sebelah kanan masjid, sehingga jamaah yang hafal dengan kebiasaan beliau pun selalu sedia untuk menunggu dan menyambut kedatangan beliau.
Jejak emas perjuangan dakwah dan syiar Islam dari nenek moyang beliau, ulama besar Banjar, Matahari Islam Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari telah pula mewarnai pola, strategi, dan model dakwah yang dilaksanakan oleh Guru Sekumpul, antara lain:
Pertama membuka wilayah pusat pengajian Islam. Semula beliau membuka pengajian kecil-kecilan di Keraton. Bibit pengajian ini terus tersemai dan berkembang pesat, sehingga intensitas perkembangan dakwah beliau dimulai ketika beliau hijrah dari Keraton ke Sekumpul. Sekumpul yang semula merupakan daerah ‘rawan’ dalam waktu singkat secara drastis berubah dan menjadi daerah madinatul ‘ilmu dan dakwah Islam, bahkan kemudian Sekumpul juga menjadi daerah pemukiman yang ramai, seiring dengan kedatangan Guru Sekumpul. Daerah ini kemudian ditata dengan baik dan menjadi semacam daerah percontohan, dalam hal kebersihan, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Karena itu jika kita melihat bagaimana pembukaan wilayah Sekumpul kita akan teringat pula ratusan masa yang silam, bagaimana kegigihan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam merintis pembukaan daerah Dalam Pagar menjadi pusat dan kawah candradimuka kader-kader Islam yang siap memperjuangkan Islam
Kedua, menulis risalah. Antara lain risalah yang pernah beliau tulis adalah Risalah Mubarakah, Manaqib Syekh as-Sayyid Muhammad Samman bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani as-Samman al-Madani, Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawasulatis Sammaniyah, dan Nubzatun min Manaqibil Imamil Masyhur bil-Ustadzil A’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
Ketiga, akhlak yang baik dan uswatun hasanah. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang lemah lembut, kasih sayang kepada setiap orang, ramah-tamah, tidak pemarah, serta pemurah.
Guru Sekumpul adalah generasi emas ketujuh dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang berhasil meneruskan tradisi ulama besar dalam sebuah model, yang saya namakan “keislaman, kedakwahan, dan kebangunan masyarakat” (utamanya masyarakat Islam Kalimantan) yang akan selalu dikenang.
Saya teringat catatan dari Ustadz H. M. Irsyad Zein (Dalam Pagar Martapura) berkenaan dengan Manaqib Guru Sekumpul yang telah beliau ijazahkan sebelum keberangkatan saya ke Malaysia-Kedah (Juli 2006), ketika saya berkunjung dan bersilaturrahmi ke rumah beliau di Dalam Pagar Martapura. Menurut beliau, di antara pesan-pesan yang sering disampaikan oleh Guru Sekumpul dalam pengajian di komplek ar-Raudhah adalah: jangan bakhil, jangan tertipu dengan karamah, dan kaji gawi, yakni sinerginya antara ilmu yang dituntut dengan amal yang dilaksanakan. Kemudian selebaran yang juga telah beredar secara luas di tengah-tengah masyarakat kita dinyatakan pula ada 11 wasiat (pesan) Guru Sekumpul, yakni: menghormati ulama dan orang tua, baik sangka terhadap Muslimin, murah hati, murah harta, manis muka, jangan menyakiti orang lain, memaafkan kesalahan orang lain, jangan bermusuh-musuhan, jangan tamak/serakah, berpegang kepada Allah pada kabul segala hajat, dan yakin keselamatan itu pada kebenaran. Versi lain menyatakan ada 13, dua tambahan dari wasiat dimaksud adalah: jangan merasa lebih baik daripada orang lain dan tiap-tiap orang iri dengki atau adu-asah jangan dilayani serahkan saja pada Allah Swt.
Demikianlah, hal terpenting bagi kita dalam mengenang kewafatan guru yang kita cintai adalah mengingat petuah dan nasihatnya, mengamalkan ilmu dan pengajarannya, serta mengikuti teladan kebaikan yang telah ditinggalkannya. “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”. Amin.

(Teriring Salam takzhim untuk Abah Guru K.H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura)

Hello world!

Posted on

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.